Diberdayakan oleh Blogger.

Dari Gua Jepang dan Gua Belanda hingga Penangkaran Rusa di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda Bandung

“Jadi begini, bagun pagi kita langsung packing barang. Lalu makan di Mie Lezat yang terkenal di seantoro Bandung. Pilihan menunya adalah mie ayam jamur dan mie ayam rica-rica. Sekitar 15-20 menit di sana, kita langsung ke Armor Kopi. Kenapa kita mesti buru-buru? Karena atmosfer di Armor Kopi paling bagus pada saat pagi hari. Pemandangannya kece dan tempat juga bagus untuk berfoto.”

Begitulah rencana kami di hari kedua di Bandung. Bangun pagi, packing barang, cus  ke Mie Lezat dan menikmati seporsi mie ayam yang bikin kangen. Sampai di sana rencana kami berjalan dengan baik. Namun ketika kami berada di depan Armor Kopi, rencana berubah total.

Ternyata dan ternyata Armor Kopi itu berada di depan kompleks Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. Juanda. Jadi, dengan membayar karcis 12.000 per orang, kamu boleh masuk ke berbagai tempat wisata di sana, dari Gua  Jepang, Gua Belanda, Penangkaran Rusa, dan Curug Omas Maribaya.

Berbagai objek wisata di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda  Bandung (Foto Koleksi Pribadi)
“Hmmm... sayang juga ya kalau cuma duduk-duduk ngopi saja di Armor Coffee. Jalan-jalan dulu saja ke Gua Belanda baru kemudian kita kembali lagi ke Armor Coffee.”

Gua Jepang
Kami pun setuju dengan keputusan tersebut. Kami pun menyusuri jalan yang naik dan turun menuju Gua Jepang. Saya cukup terengah-terengah karena memang saya terbilang jarang olahraga. Sekitar 15-20 menit berjalan kami pun sampai di Gua Jepang.

Di Depan Gua Jepang Ada Pengamen dengan Alat Musik Tradisional (Foto Koleksi Pribadi)
Di Gua Jepang ada beberapa lelaki yang memberikan senter.  Saya yang langsung sensitif kalau ada orang yang tidak dikenal memberikan yang gratisan “ini gratis atau bayar”. Si emang yang nyunda banget langsung menjawab “pakai saja, enggak apa-apa.”  Namun di akhir percakapan, barulah terbongkar jika harga sewa satu buah senter adalah 5.000  rupiah.

Senter tersebut sangat berguna menerangi jalan dan sudut gua yang begitu gelap. Sayangnya, kami tidak menyewa tour guide sehingga kami tidak mengetahui sejarah apa pun mengenai gua yang dipakai oleh orang Jepang ini sebagai tempat bersembunyi dan menyimpan amunisi dan makanan.

Rencana kami yang tadinya jika sudah sampai Gua Jepang, langsung balik lagi ke Armor Coffee ternyata mendadak berubah lagi karena tergoda dengan “rayuan abang gojek” yang awalnya menawarkan untuk mengantarkan kami sampai ke Curug Omas Maribaya dengan biaya 100.000, mendadak turun harga menjadi  50.000 lepas kunci. Kami pun tertarik dengan tawaran tersebut.

Gua Belanda
Dengan empat motor matik dan manual, kami menyusuri jalan sempit berbatu yang naik dan turun. Jalan  hanya muat satu motor dan itu pun kami harus berbagi juga dengan para pejalan kaki. Di samping kami terhampar jurang yang dalam. Bersyukur ada pagar-pagar yang membatasi jalan. Namun demikian, kami perlu ekstra hati-hati.  Tujuan kami selanjutnya adalah Gua Belanda. Tak mau mengulangi kesalahan sebelumnya, kali ini kami meminta tour guide memandu kami mengelilingi Gua Belanda yang memiliki luas 750 m2.
Naik turun bukit di hutan Haji Ir Juanda dengan motor (foto koleksi pribadi)
Kuda bisa jadi alternatif moda transportasi lain untuk menyusuri Tahura (Foto Koleksi Pribadi)

 Gua Belanda awalnya digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) pada tahun 1906 hingga akhirnya berubah fungsi menjadi tempat tinggal, tempat menyimpan amunisi  dan makanan, penjara, ruang introgasi dan ruang penyiksaan, dan juga berfungsi sebagai pusat radio dan komunikasi.


Gua Belanda (Koleksi Foto Pribadi)
Ribuan orang Indonesia dipaksa untuk membuat lorong-lorong yang baru giuna memperluas gua. Dan ketika selesai, mereka akan dibunuh karena takut kerahasiaan tempat ini bisa bocor ke orang luar.

Sebelum meninggalkan Gua Belanda, kami mampir ke ruangan penjara yang kini hanya tinggal teralis besinya. Kami juga melihat rel di lorong pintu utama, di sinilah dulu kereta lalu-lalang mengantarkan segala keperuan penghuni gua.

Banyak sekali cerita dan misteri yang tertinggal di sana.  Sesaat sebelum meninggalkan pintu besar yang terbuat dari besi, kami hanya bisa mendengarkan suara-suara kelelawar yang sedang tertidur lelap di lubang-lubang kecil yang gelap.

Penangkaran Rusa
Petualangan kami belum berakhir di sini. Tujuan selanjutnya adalah penangkaran rusa. Jalan menuju ke sana sama jeleknya dengan jalanan tadi. Seorang turis lokal tampak membantu turis lainnya yang tampak kelelahan. Kami juga menjumpai satu keluarga turis dari Eropa yang juga sedang berpetualang di hutan ini.
Penangkaran Rusa (Foto Koleksi Pribadi)
Sekitar lima belas menit naik motor, kami sampai ke penangkaran rusa. Kami kemudian mendaki jalan berundak dan akhirnya bertemu dengan kandang rusa  yang sebenarnya agak berbau.Namun, rusa-rusa cantik berbulu cokelat dan bertanduk ini seakan memanggil kami untuk segera mendekat. Berbekal tiga kantong wortel yang kami beli dengan harga 5K, kawanan rusa berebut mendekati kami. Mereka berebut memoncongkan  mulutnya ke arah wortel yang tidak terlalu segar ini. Beberapa kali saya melemparkan wortel ke belakang agar rusa yang di belakang juga ikut pesta pora wortel.

Setelah puas memberi makan rusa-rusa tersebut,  kami beranjak meninggalkan tempat tersebut menuju destinasi terakhir kami, yaitu Curug Omas Maribaya.

Curug Omas Maribaya
Kami pun segera menghentikan motor kami jauh sebelum sampai di dekat curug. Motor salah seorang teman sempat standing karena bayak bebatuan yang terhampar di jalanan. Kami putuskan untuk  memarkir motor di sana dengan alasan keamanan. Kami menelusuri jalan berbatu yang menanjak dengan berjalan kaki.

Curug Omas Maribaya (Foto Koleksi Pribadi)
Kami pun kemudian beristirahat sebentar di sebuah warung berdinding bambu sebelum melanjutkan perjalanan ke Curug Omas Maribaya. Namun rencana kami pun batal karena jalan menuju tempat tersebut masih turun sangat jauh. Kami putuskan untuk hanya melihat curug dari kejauhan. Beberapa teman kemudian memesan mie instan dengan telur setengah matang dan potongan sawi hijau untuk makan siang kami.

Setelahnya kami naik motor lagi ke bawah selama 45 menit. Tubuh tergunjang-gunjang sepanjang perjalanan. Kami pun segera mengembalikan motor ke tukang ojek. Tak menyangka kami yang awalnya iseng-iseng, tetapi ternyata mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman di sini.

Next stop setelah berlelah-lelah adalah Armor Coffee. Dari kejauhan kami sudah melihat antrean orang di tempat yang tampaknya sedang ngehits ini. Karena kelelahan, kami tidak mood lagi untuk ikut serta dalam barisan tersebut. Kami hanya melihat-lihat sebentar dan setelahnya kami putuskan untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Dan jika mau, kami harus ikutan antrean (Koleksi Foto Pribadi)
Waktu juga yang memisahkan kebersamaan kami. Waktu juga yang akan membawa saya kembali. Semoga bisa kembali lagi lain waktu. Semoga saja!
Share on Google Plus

About Sonta Frisca

Usaha tidak akan pernah sia-sia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: