Diberdayakan oleh Blogger.

Makanan Lezat Sarat Makna di Hari Imlek



Imlek adalah momen kumpul keluarga bagi orang-orang Tiongkok. Biasanya di malam sebelum hari-H semua anggota keluarga berkumpul untuk menikmati berbagai hidangan lezat.

Dahulu di Tiongkok ada 30 jenis makanan yang akan disajikan pada acara makan malam spesial tersebut. Namun di Indonesia, setelah mengalami berbagai adaptasi, setidaknya ada empat jenis makanan yang selalu hadir di meja makan. Masing-masing memiliki makna yang berbeda. Berikut keempat jenis makanan tersebut.

Ikan
Ikan bagi budaya Tiongkok bermakna rezeki. Oleh karena itu, pada setiap perayaan Imlek  pindang ikan bandeng kerap disajikan. Ikan yang dimasak dengan kecap dan asam jawa ini memang sangat lezat dimakan bersama nasi panas. Ikan bawal putih juga bisa menjadi pilihan lain. Ada banyak cara mengolah ikan dewa ini, mulai dari  asam manis hingga kuah kuning. 
Jeruk
Jeruk dalam bahasa Mandarin adalah kit yang berarti keberuntungan. Namun bisa juga diartikan dengan adanya buah tersebut, semua anggota keluarga akan bersinar seperti warna keemasan jeruk. Beberapa mengartikannya sebagai buah rezeki. Oleh karena itulah, buah ini selalu ada pada saat perayaan Imlek.
Kue Lapis Legit
Kue lapis legit yang manis ini juga mempunyai arti yang berhubungan dengan rezeki yang akan diperoleh di tahun depan. Oleh karena itu, kue berbahan dasar tepung terigu, telur, dan mentega ini selalu dicari atau dibuat sendiri. Orang Tionghoa percaya jika memakan kue ini, rezekinya akan selalu terus-menerus ada, tak 
pernah putus seperti kue lapis legit. 
Kue Keranjang
Jika ketiga makanan di atas selalu berhubungan dengan rezeki, kue keranjang memiliki makna yang agak berbeda. Kue yang lengket dan manis ini memiliki filosofis yang berkaitan dengan hubungan di antara sesama anggota keluarga. Diharapkan di tahun depan hubungan keluarga akan selalu lengket dan manis. 
Share on Google Plus

About Sonta Frisca

Usaha tidak akan pernah sia-sia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. hihihi baru tau kaau semua itu ada filosofinya, tapi dari empat itu yang saya gak begitu suka kue keranjang. Meski setiap imlek slalu dieri oleh tetangga yang merayakan, kalau langsung dimakan agak aneh. Paling bisanya saya olah lagi biar lebih ueak :)

    BalasHapus
  2. Saya juga biasanya digoreng lagi pake tepung. Rasanya jadi lebih enak. Tapi menurut filosofis Tiongkok, kue keranjang baru boleh diolah lagi setelah 15 hari perayaan Imlek. Kalau saya cuek aja, beberapa hari setelah imlek saya langsung goreng kalau kepingin. :-)

    BalasHapus